Jean-Baptiste Colbert, John Granville, 1st Earl of Bath, John Locke, Charles Townshend, Heinrich Graf von Bellegarde, Jan Śniadecki, Nikita Yakovlevich Bichurin, Jean Ingres, Frederick Maurice, Oliver Wendell Holmes, Sr., Juan Bautista Alberdi, David B. Hill, Edward Carpenter, Andrew Fisher, Albert Lebrun, Charles F. Kettering, Preston Sturges, Aurel Joliat, Werner Forssmann, Dhyan Chand, Wolfgang Suschitzky, Barry Sullivan, Ingrid Bergman, George Montgomery, Luther Davis, Isabel anford, Giestha, Charlie Parker, Richard Attenborough, Marmaduke Hussey, Consuelo Velázquez, Dinah Washington, María Dolores Pradera, Charles Gray, Thom Gunn, Jacques Bouchard, Stelios Kazantzidis, Lise Payette, Arnold Koller, William Friedkin, John McCain, James Florio, Elliott Gould, Robert Rubin, Joel schumacher, Gary Gabelich, Robin Leach, James Glennon, John Heuser, Wyomia Tyus, Bob Beamon, James Hunt, Karen Hesse, Dave Malone, James Quesada, Viv Anderson, Mark Morris, Jerry D. Bailey, Michael Jackson, Lenny Henry, Ernesto Rodrigues, Akkineni Nagarjuna, Timothy Perry Shriver, Chris Hadfield, Rebecca De Mornay, Carsten Fischer, Hiroki Kikuta, Elizabeth Fraser, Anton Newcombe, Joe Swail, Jacco Eltingh, Carla Gugino, Bae Yong Joon, Adam Sessler, Olivier Jacque, Kumi Tanioka, Stephen Carr, Pablo Mastroeni,Jon Dahl Tomasson, John Patrick O'Brien, Aaron Rowand, Roy Oswalt, Charlie Pickering, Celestine Babayaro, Ali Eftekhari, Chieu Luu, David Desrosiers, Chris Simms, David West, Nicholas Tse, Geneviève Jeanson, A+, Carlos Delfino, effrey Licon, Lauren Collins, Tony Kane, Renisa Handayani, Risa Shimamoto,
dari sekumpulan nama ini, mereka setidaknya memiliki satu kesamaan....
ada yang dikenal?
Label: famous, on nothing
baca selengkapnya... onething in common,
Adalah seorang veteran TNI di jogyakarta, bernama Daozan Farook *saya mengenalnya setelah nonton talk show K!ck Andy* . Bapak ini memiliki sebuah movement MABULIR, Majalah Buku Bergilir. Beliau memiliki banyak sekali buku, mungkin karena ingin berbagi, Beliau setiap hari berkeliling dengan menyewa ojek *sebelumnya berkeliling dengan naik sepeda namun karena usia semakin senja sudah tidak memungkinkan* dan membagikan buku dan majalah, tetapi bukan untuk dimiliki oleh orang yang diberi, melainkan jika sudah selesai dibaca Beliau ingin buku itu dipinjamkan lagi ke orang lain, dan begitu seterusnya. Alasan beliau, beliau ingin kebaikannya dibalaskan kepada orang lain. Sungguh, melihat keadaannya hal tersebut sangat bertolak belakang. Hidup beliau teramat sangat sederhana, dan kalau saya nilai hanya buku-bukulah harta dia yang berlebih, tapi itu pun dengan ikhlasnya dia bagikan ke orang-orang yang membutuhkan dan perlu di catat dengan balasan buku itu setelah selesai dibaca harus dipinjamkan pada orang lain.
Perbuatan mulia Bapak Daozan mengingatkan saya pada Trevor McKinney di film Pay It Forward. Di film ini si kecil yang diperankan oleh Haley Joel Osmend memiliki sebuah proyek MLM yang mulia yaitu jika kita membantu seseorang dan orang yang telah kita bantu ingin membalas kebaikan kita, balaslah kepada orang lain dan mintalah orang tersebut membalasnya pada orang lain lagi, dan seterusnya. Saya pikir itu hanya terjadi di film saja. Tetapi rupanya, seorang Bapak Daozan Farook yang hidupnya sangat sederhana *dan saya? Huh! Jadi malu* telah mempraktekkannya dengan buku sebagai medianya. Di jaman penuh pamrih dalam bentuk korupsi, kolusi dan pungli ini ternyata masih ada seseorang yang berpikir untuk ber Pay It Forward dalam hal kebaikan.
Label: famous, films, hobbies, hope, jurnal, lagi sok mikir, sad, thought
baca selengkapnya... just pay it forward, please..
Ibu Ellis ini seorang penulis yang dilahirkan di Ontario Kanada di tahun 1960, dan banyak mengangkat kisah anak dan perempuan di negeri yang sedang dilanda konflik. Dan baik hatinya, hasil royalti penjualan bukunya dia kembalikan untuk mereka, anak-anak dan perempuan di tempat konflik tersebut, alasannya,
"saya melihat dan mendengar sendiri bagaimana menyedihkannya nasib anak-anak ini. Bagaimana mereka kehilangan segalanya. Jadi kalau saya membalikkan badan dan menyimpan sendiri uang penjualan buku, sangat jahat sekali rasanya"
Selain itu, seorang Deborah Ellis menurut hasil wawancara sebuah media cetak dengannya saat sedang berkunjung kemari menunjukkan bahwa Ibu Ellis ini selain baik hati juga sangat-sangatlah humble, katanya beliau tidak suka membaca buku science fiction karena menurutnya butuh otak khusus untuk bisa membaca dan menulis cerita fantasi, dan beliau merasa tidak punya otak khusus tersebut. Untuk seseorang yang sudah mulai menulis semenjak diusia 12 tahun, pernyataan beliau sungguh humble sekali..
Masih ada ya di jaman sekarang ini orang yang begitu baik hati dan rendah hati seperti beliau…hmm nanti kalo ke toko buku pasti saya cari deh bukunya. Senang bukan kalo beli buku sekaligus kita juga tahu dengan membelinya kita juga bisa membantu tokoh yang diceritakan didalam bukunya.
"banyak orang berhenti menulis di tengah jalan karena merasa yang di tulis hal bodoh atau buruk. Belajarlah mengabaikan perasaan itu. Teruslah menulis. Tak apa-apa menulis hal bodoh untuk belajar menulis lebih baik lagi"
(Deborah Ellis, Chic magazine/07/III/2305/0506/2007)
Label: famous, hobbies, thought
baca selengkapnya... Deborah Ellis yang Down To Earth
Rabu, 29 Agustus 2007 1:02 PM|








